Kehadiran layanan e-commerce yang sempat menjamur sepanjang dua tahun terakhir cukup mengguncang industri ritel (offline). Bisnis brick and mortar, istilah yang banyak digunakan untuk toko offline, dituntut mengubah model bisnis mereka dengan melakukan pendekatan secara online dan memanfaatkan media sosial untuk menjalin hubungan dengan pengunjung.

Besarnya pengeluaran yang harus disisihkan, menurut data Aprindo ritel besar memberikan kontribusi pajak yang signifikan, tidak dibarengi dengan pemasukan yang seimbang.

Laporan keuangan emiten yang dipublikasikan dan diolah Katadata menunjukkan 10 emiten sektor ritel pada 2017 perlambatan pertumbuhan pendapatan dibanding pada 2013. Total penjualan 10 emiten ritel (Matahari Putra Prima, Ramayana, Supra Boga, Midi Utama, Electronic City, Hero, Matahari Department Store, Sumber Alfaria Trijaya, Mitra Adiperkasa, dan Ace Hardware) pada 2017 hanya tumbuh 6,41% dari tahun sebelumnya, padahal pada 2013 mampu mencatat pertumbuhan lebih dari 21% dibanding tahun sebelumnya.

Gaya hidup dan kebiasaan konsumen sudah mengalami pergeseran, seiring dengan makin maraknya penjualan secara online yang sediakan platform e-commerce.

Mulai buka toko offline

Tidak dapat dipungkiri, untuk sejumlah variasi produk tertentu, seperti fesyen, gadget, dan grocery, masyarakat masih menyukai pengalaman berbelanja langsung di toko. Melihat kebutuhan tersebut, sejumlah layanan e-commerce kemudian menerapkan skema online-to-offline dengan mendirikan toko offline di kota-kota besar.

Menurut VP of Corporate Relations GK-Plug and Play Indonesia Mercy Setiawan, O2O akan menjadi suatu konsep yang mencolok karena teknologi merupakan hal yang tidak terelakkan dalam kehidupan sehari-hari. Tingginya kebutuhan untuk kenyamanan merupakan fenomena yang besar di masa mendatang.

“O2O e-commerce adalah bisnis strategi yang dirancang untuk membawa online customer ke lokasi offline store, serta menciptakan pengalaman digital yang seamless baik sebelum transaksi, pada masa pembelian, serta setelah transaksi berakhir.”

DailySocial mencatat setidaknya dua layanan fashion commerce yang cukup rutin mendirikan toko offline di kota-kota besar di Indonesia. Mereka adalah Berrybenka dan Hijup. Keduanya menyasar kalangan perempuan, termasuk busana muslim.

Berrybenka telah mendirikan 25 toko offline di berbagai kota-kota besar di Indonesia. Melalui Hijabenka, Berrybenka juga meresmikan toko offline pertamanya yang menyasar busana muslim di Mall Kota Kasablanka Jakarta.

“Kami mencatat perkembangan Hijabenka yang cukup signifikan, yakni hampir 150% dari tahun ke tahun. Hijabenka, yang sebelumnya mendompleng berjualan di dalam toko offline Berrybenka sejak awal tahun 2016, saat ini dirasa cukup mapan untuk dapat berdiri sendiri di pasar retail,” kata CEO Berrybenka Jason Lamuda.

Jason menambahkan, sejak kuartal keempat 2018, Hijabenka tak lagi menjual pakaian muslim yang berasal dari brand lain. Hijabenka fokus mengembangkan pakaian yang didesain desainer lokal dengan brand Hijabenka.

Melihat animo masyarakat terhadap strategi omni-channel yang telah dijalankan Berrybenka, Jason yakin strategi ini akan sukses diterapkan Hijabenka. Secara online, selain melalui platform-nya sendiri, Berrybenka dan Hijabenka juga sudah hadir di beberapa marketplace besar, seperti Zalora dan Shopee.

Serupa dengan Berrybenka, Hijup aktif menjangkau kota-kota besar di Indonesia dan telah memiliki 12 offline store di Indonesia dan 1 offline store di Malaysia. Menurut CEO Hijup Diajeng Lestari, hadirnya Hijup Store di berbagai kota besar di Indonesia mempengaruhi pertumbuhan bisnis Hijup secara keseluruhan hingga tiga kali lipat.

“Seiring dengan semangat Hijup untuk memberikan berbagai kemudahan bagi muslimah untuk menjadi versi terbaik dari dirinya, Hijup Store ini diharapkan dapat melengkapi hari seseorang sehingga bisa berpenampilan baik, merasa nyaman, dan berkegiatan produktif serta menyebarkan kebaikan.”

Layanan e-commerce lain yang juga mendirikan toko ritel offline adalah Muslimarket. Melalui brand Suqma yang diluncurkan pada tahun 2017 lalu, Suqma hadir sebagai modest fashion brand dengan menyediakan berbagai modest attire hasil karya desainer muslim Indonesia. Saat ini Suqma sudah membuka tiga gerainya di pusat perbelanjaan Indonesia, dua di Jakarta dan satu di Surabaya.

“Jadi offline tersebut masih merupakan satu distribusi channel yang harus kita miliki. Saya pribadi melihat offline masih menjadi kesempatan yang besar di Indonesia, dikarenakan kultur masyarakat yang masih sangat offline walaupun kehadiran online sudah sangat berkembang,” kata CEO Muslimarket Riel Tasmaya.

Antusiasme masyarakat yang tinggi terhadap kehadiran pop-up store dan bazaar menjadi pemicu tambahan dari para pemain online store untuk membuka sedikitnya satu offline flagship store agar para pembeli lebih dapat mengenal brand positioning dan kualitas produk mereka.

“Pada saat ini, seiring berjalannya waktu, perlahan-lahan pasar Indonesia mulai teredukasi. Merasa lebih nyaman serta percaya untuk langsung membeli langsung secara online karena adanya refund, tukar size, hingga COD,” kata Mercy.

Tren masa depan

Menurut Ketua Umum idEA Ignatius Untung, usaha pemain online yang membangun offline storebertujuan menjemput bola konsumen yang belum terjangkau media online. Kalkulasi bisnisnya tidak bisa disamakan dengan acquisition cost melalui channelonline.

“Semakin banyak player yang membangun offline channel akan makin memperkuat consumer based dan share of mind mereka di benak konsumen. Kami sebagai asosiasi (idEA) tidak ingin mencampuri terlalu jauh karena ini masuk ke ranah bisnis dan sepanjang tidak menyalahi aturan, sah-sah saja untuk dilakukan,” kata Untung.

Brand umumnya mengambil kesempatan untuk mengkombinasikan antara online dan offline ke dalam suatu pengalaman berbelanja yang seamless dan menyenangkan untuk para pembeli.

Untk mereka yang masih di tahap awal, level of engagement dengan para pembeli mereka lebih personal dan belum terlalu membutuhkan offline store.

“Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana online brand dapat memastikan bahwa keberadaan offline mereka adalah finalisasi 100% dari pembelian. Offline store juga harus memperhatikan ketersediaan stock yang ada, jangan sampai produk ada di online tapi tidak tersedia di toko offline,” kata Mercy.

 


Co-Founder dan President Bukalapak Fajrin Rasyid dan Co-Founder Paxel Zaldy Ilham Masita / DailySocial

(ADS) e2eCommerce Indonesia  adalah pameran  ekosistem eCommerce. Kamu bisa menjadi member dan mendaftar sebagai pengunjung klik di link ini. mengunduh laporan  dan statistic event secara cuma-cuma, dan mengikuti berita terbaru.

Bukalapak mengumumkan kerja sama dengan startup logistik “last mile” Paxel untuk melayani pengiriman same day delivery antar kota antar provinsi. Kerja sama ini masih bersifat eksklusif tersedia di Bukalapak.

Co-Founder dan President Bukalapak Fajrin Rasyid menjelaskan, selama ini pengiriman same dayterbatas untuk dalam kota dan baru dilayani pemain on demand, seperti Go-Send dan GrabExpress.

Menurut Bukalapak, ada sejumlah tantangan di bidang logistik yang masih mereka hadapi, seperti pengiriman belum diterima, status paket yang dikembalikan, alamat tidak lengkap, barang hilang atau rusak, dan bermasalah dengan resi.

“Para pelanggan Bukalapak membutuhkan jasa logistik yang dapat diandalkan sebagai solusi terhadap tantangan pengiriman barang yang mereka hadapi selama ini. Kami selalu mencari solusi inovatif untuk memperbaiki ekosistem pengiriman barang,” terangnya, Jumat (3/5).

Menurut laporan McKinsey, pada tahun 2022, Indonesia akan mengirimkan 1,6 miliar paket per tahun. Angka ini lebih banyak dari total pengiriman paket dalam sejarah. Selain itu, mengutip dari laporan PwC pada Global Consumer Insight Survey 2018, sebanyak 41% responden rela membayar lebih untuk mendapatkan layanan same day delivery. Melihat kebutuhan tersebut, Bukalapak berkomitmen menghadirkan solusi pengiriman yang mengutamakan kualitas dan kecepatan.

Co-Founder Paxel Zaldy Ilham Masita menambahkan, selama lima tahun terakhir perkembangan e-commerce tumbuh dengan pesat namun belum diimbangi oleh industri logistik. Kemudian, pada dua tahun terakhir muncul kebutuhan dari konsumen yang menginginkan pengiriman same day. Hal ini menjadi suatu tren baru dan menginspirasi untuk berdirinya Paxel.

“Paxel menggabungkan algoritma dan teknologi, people dan process sehingga barang bisa tiba di hari yang sama dengan harga flat. Alhasil kami memberikan metode pengiriman paling efisien dan produktif yang sama sekali berbeda dengan yang dilakukan perusahaan logistik selama ini,” kata Zaldy.

Dia melanjutkan, pengiriman same day ini bisa menjadi peluang untuk para merchant dalam mengembangkan pasarnya bisa dijangkau lebih banyak konsumen. Dari hasil survei internal yang dilakukan perusahaan, diungkapkan bahwa same day delivery bisa memberikan ROI (return of investment) hingga 4 kali lipat.

Pasalnya, mereka bisa menerima pencairan uang yang lebih cepat dari sebelumnya harus menunggu 3-4 hari sampai barang diterima konsumen. Dana tersebut dapat mereka putar untuk pengembangan usahanya lagi.

“Bakal ada kecenderungan konsumen akan jadi repeat consumer karena puas ketika barang lebih cepat sampai dari yang mereka prediksi,” tambah Fajrin.

Para pelanggan Bukalapak dapat menikmati layanan pengiriman oleh Paxel di hari yang sama dalam rentang waktu 8 jam untuk dalam kota dan 10-15 jam untuk antar kota. Layanan ini tersedia untuk wilayah Jabodetabek, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Solo, Malang, Surabaya, dan Denpasar.

Paxel memanfaatkan moda transportasi pesawat atau kereta api untuk melayani pengiriman same day antar provinsi yang dikombinasikan dengan model bisnis Paxel yakni estafet, memanfaatkan smart locker untuk saling terhubung dengan antar kurir.

Saat ini Paxel memiliki 1.400 armada kurir yang tersebar di Jawa dan Bali, dengan 100 smart locker yang baru tersedia di Jakarta. Bukalapak menjadi mitra e-commerce pertama Paxel. Selama ini perusahaan kebanyakan bekerja sama dengan merchant social commerce yang berjualan di akun Instagram atau media sosial lainnya.

Basis pengguna Paxel diklaim mencapai sebanyak 200 ribu merchant. Volume pengiriman Paxel tumbuh 30% per bulannya sejak pertama kali rilis di awal 2018. Pengiriman barang baru tersedia untuk volume paket kecil dan sedang dengan maksimal berat 5 kg.

Zaldy menyebut perusahaan akan berekspansi layanan ke Medan dan Makassar pada tahun ini. Kemitraan dengan Bukalapak akan dibawa ke tahap lanjut, memanfaatkan warung mitra Bukalapak sebagai titik drop atau locker.

“Apabila nanti bisa memanfaatkan warung mitra Bukalapak tentunya harga pengiriman bisa ditekan, sehingga pengiriman same day bisa dinikmati semua orang,” pungkas Zaldy.

Source : dailysocial.id


Jakarta. E-commerce accounted for 8 percent of total retail sales in Indonesia last year, on course to reach 18 percent by 2023, fueled by changing behavior among tech-savvy customers who are willing to spend more for convenience, according to a recent study by American multinational investment bank Morgan Stanley.

The study estimates the size of Indonesia’s e-commerce market at $13 billion in 2018, having grown by 50 percent annually over the past two years. It suggests that the e-commerce market in Southeast Asia’s biggest economy may follow a similar growth trajectory to that of China and expand by at least 32 percent annually over the next five years to $52 billion in 2023.

“This is notably above our previous estimate of $7.3 billion, or 4.4 percent of sales, partially due to better data availability but also due to the rapid growth in the user base… Indonesia is now only five years behind China in terms of penetration,” Morgan Stanley wrote.

A separate study by global tech giant Google and Singapore’s Temasek, published last December, put the size of Indonesia’s e-commerce market at $12.2 billion in 2018 and $53 billion in 2025.

The Morgan Stanley study, based on interviews with 1,582 respondents in eight Indonesian cities, suggests that the growth trend is still in an early stage, with many indicating that they only started shopping online in the past year.

“Interestingly, 65 percent of the respondents in our survey had only started shopping online within the past year, and the majority believed e-commerce would become their main method of shopping over time,” the investment bank wrote in the report published on Tuesday.

“There are 195 million smartphone users in Indonesia and only about 30 million online shoppers. The growth potential of the user base is still clearly huge,” it wrote.

Apart from smartphone penetration, low data costs and the growing number of people with bank accounts serve as crucial enablers for continuing e-commerce growth, Morgan Stanley said. Data costs about 50 US cents per gigabyte in Indonesia, compared with $2.1 per gigabyte in China. About 49 percent of the adult population in Indonesia now has a bank account, compared with 20 percent in 2011.

Apparel 

Clothing and footwear fuel the sales growth, with 93 percent of respondents indicating that they bought items in this category online in the past 12 months. Half of them buy apparel at least once a month, Morgan Stanley said. In comparison, only 16 percent and 25 percent, reported that they purchased consumer electronics and mobile devices, respectively, which is the most common category in early state e-commerce.

The study also noted changing customer behavior, which would likely affect their interaction with traditional brick-and-mortar stores. Three in every four customers said they would check for promotions or prices online before buying anything offline, Morgan Stanley reported.

Seven in every 10 said they would continue shopping online, even if it meant they would have to pay for delivery. Morgan Stanley said this reflects consumers’ “willingness to pay for convenience.”

“Fast shipping was the primary reason for preferring one website over another,” the bank said.

Retailers 

The trend presents challenges to traditional retailers to remain profitable and provides a powerful platform for small brands to challenge established manufacturers.

“Our analysis reaffirms our medium-term concern for apparel-focused retailers like [Matahari Department Store]. The average transaction size for apparel online, per our survey, is similar to Matahari’s basket size,” Morgan Stanley said.

“For beauty and personal care companies like Unilever, the combination of e-commerce and digital media is making it easier or cheaper for smaller companies to build brands and offer nationwide distribution,” it wrote.

Everybody’s Game

Investment in Indonesian internet companies has steadily risen over the past two years, which saw them attract at least $7.4 billion in the capital in 730 deals.

With all this potential growth, Morgan Stanley has yet to see clear winners in the country’s e-commerce market.

Four players control most of the formal e-commerce sales: Lazada, Shopee, Tokopedia and Bukalapak, with the top three each controlling between 20 percent and 30 percent of the market. Bukalapak was in the low teens, according to Morgan Stanley’s estimation.

Lazada, a pioneer of e-commerce in Southeast Asia, is still the most preferred platform, according to the bank’s survey

“Lazada had high usage rates across categories and genders. The cash-on-delivery option was one of the key drivers of the preference,” it said.

Shopee was second overall in terms of usage and preference, being more popular in smaller cities and among people buying baby products, toys, and beauty and personal care products.

“Tokopedia’s preference and usage were lower beyond Jakarta in our survey. Its usage rate was only 38 percent in second-tier cities like Surabaya, Medan, and Bandung, compared to 62 percent in Jakarta,” Morgan Stanley said.

A surprising find in the survey is that Tokopedia and Bukalapak both enjoy more than 80 percent customer recognition, but less than 50 percent had made purchases on their platforms within the past 12 months.

“For Southeast Asia, we remain convinced that its e-commerce platform is being undervalued. Our survey not only confirms the popularity of Shopee but also that its users are willing to pay for delivery, which solidifies its path to profitability,” Morgan Stanley said.

 

source: jakartaglobe.id


Peresmian situs e-commerce “wellness” Fits.id di Jakarta / Fits.id

e2eCommerce Indonesia adalah konferensi dan pameran yang dirancang untuk ekosistem ecommerce, dalam rangka percepatan ekonomi  digital Indonesia, menyatukan para pemain kunci dan mendorong diskusi  tentang masalah strategis dan operasional serta membantu melahirkan solusi sistem canggih untuk pemegang merek,  pengecer, pasar / operator eCommerce, operator parsel dan logistik untuk Indonesia.

Gaya hidup sehat kini mulai jadi pilihan sejumlah masyarakat di Indonesia. Hal ini bisa terlihat dari munculnya komunitas olahraga, timbulnya kesadaran untuk diet dan memilih makanan sehat demi menghindari penyakit. Potensi tersebut ingin diseriusi lebih dalam oleh e-commerce “wellness” Fits.id yang telah resmi sejak 11 Februari 2019.

Head of Marketing Strategic and Partnership Fits.id Pondra Nala Permana menjelaskan, Fits.id berangkat dari pemikiran holistik tentang arti kesehatan serta minimnya platform yang dapat dituju masyarakat untuk mencari produk dan jasa kesehatan. Selama ini keberadaan kategori produk sehat kurang beragam sehingga kurang bisa memenuhi kebutuhan kesehatan secara holistik.

“Fits.id hadir sebagai pionir di bidang wellness e-commerce untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin tinggi akan produk dan jasa kesehatan terpercaya,” terangnya dalam keterangan resmi.

Dikutip dari data Nielsen’s New Global Health and Ingredient-Sentiment Survey 2016, disebutkan 70% masyarakat modern Indonesia sudah menjalani diet tertentu untuk menghindari penyakit degeneratif. Sementara 68% lainnya memilih berinvestasi lebih pada makanan dengan kandungan yang sesuai dengan diet mereka.

Alhasil berbagai produk dan jasa kesehatan merupakan kata kunci yang kerap dicari para pembeli online. Mulai dari makanan sehat, alat olahraga, perawatan medis, bahkan asuransi kesehatan.

“Seluruh produk yang ada di Fits.id telah kami kurasi untuk dapat menunjang kebutuhan masyarakat akan kesehatan raga, pikiran, dan jiwa karena kami percaya konsep kesehatan itu tidak bisa berdiri sendiri,” tambah E-Commerce Manager Fits.id Sheila Rizkia.

Fits.id mengurasi merchant agar dapat menyediakan 12 pilihan produk dan jasa kesehatan yang secara holistik mencakup makanan sehat, produk olahraga, perawatan diri, medical check-up, paket wisata, hingga asuransi. Di samping itu, ada fitur potongan harga Hot Deals dan Wellness Calculator untuk memberikan rekomendasi produk asuransi dan wellness yang sesuai.

Tersedia pula fitur Insurance Comparison untuk memudahkan konsumen membandingkan produk asuransi sesuai gaya hidup masing-masing konsumen. Fits.id, sambung Sheila, didukung situs agregator produk asuransi Integra. Baik Integra maupun Fits.id adalah perusahaan afiliasi dengan nama badan hukum berbeda.

Rencana tahun ini

Secara terpisah kepada DailySocial, Sheila menambahkan sejauh ini layanan Fits.id baru bisa diakses via desktop dan akan terus disempurnakan agar konsumen nyaman berbelanja di situs. Fitur akan terus ditambah, begitu pula dengan kategori produk baru agar konsumen punya banyak pilihan.

Rencana peluncuran aplikasi masih dalam proses pematangan konsep dan user experience, agar ketika diluncurkan dapat diterima dengan baik oleh konsumen. “Untuk jangka panjangnya, tentunya kami ingin menjadi satu-satunya one stop wellness e-commerce yang dituju masyarakat Indonesia.”

Seiring dengan target tersebut, Sheila menyebut saat ini perusahaan belum berencana memonetisasi bisnisnya. Layaknya perusahaan e-commerce lain di awal pertumbuhan, perusahaan masih fokus memperbaiki konten, meningkatkan kualitas user experience, brand awareness, menumbuhkan kepercayaan, dan reputasi.

“Ketika fase tersebut sudah sempurna, kami yakin seluruh pihak di Fits.id akan tumbuh bersama dengan meningkatnya volume penjualan yang tinggi dan meningkatnya margin pendapatan. Secara operasional kami juga ada toko offline yang sudah memiliki basis konsumen yang cukup luas.”

Sheila menyebutkan pendanaan operasional masih berasal dari shareholder internal Fits.id dan belum berencana untuk penggalangan dana, meski tidak menutup opsi tersebut di masa depan.

Source : https://dailysocial.id/post/platform-e-commerce-wellness-fits-id

 

 


Indonesia’s logistics industry will enjoy double-digit growth this year, thanks to booming e-commerce and a string of new bonded logistics centres.
According to the Indonesian Logistics Association (ALI), the industry will grow 10-12% this year, while e-commerce will expand by up to 30%.
“E-commerce in Indonesia has driven express business growth exponentially for the last five years, with a lot of new express logistics companies launching,” said ALI chairman Zaldy Masita.
“The challenge is that there is little logistics standardisation in Indonesia, so it’s very difficult to implement automation systems that could increase productivity. Indonesia’s geography of 17,000 islands is a big challenge for newcomers from overseas.”
However, he added: “The e-commerce opportunity is still wide open, with the portion of e-commerce of total retail sales still below 5% – so there’s plenty of room for further growth,”
Mr Masita is also confident Indonesia’s new bonded logistics centres (PLBs) give the country a much-needed advantage over rivals Singapore and Malaysia, where logistics costs are roughly half.
The centres act as “mini free-trade zones”, deployed strategically throughout the country, helping reduce storage costs for importers and exporters. The first 11 opened in 2016, another 50 launched last year and a second generation is under development.
“PLBs will bring regional warehouses in ASEAN to be based in Indonesia,” claimed Mr Masita. “As the biggest economy in ASEAN, Indonesia consumes the majority of products, so it makes sense if more warehousing is here to save logistics costs.
“They provide the opportunity for cargo owners to postpone duties and taxes until the goods are sold to Indonesian consumers, and also allow for goods to be re-exported up to three years later without paying any tax.”
He said PLBs could be a threat to Singapore and Malaysia, which act as regional distribution centres via their free-trade zones, if Indonesia could gain more direct air and sea links with other ASEAN markets.
“One of the strengths of the PLBs is they are all over Indonesia, so there’s no need to attach the free-trade zone complex as in other countries,” he added.
Indonesia’s director general of customs and excise, Heru Pambudi, recently claimed importers could save US$500 per container by storing goods at the PLBs instead of in Singapore, and that the policy had already drawn $606m of inventory away from the city state.
According to Sutomo Asngadi, a local trade compliance consultant, this is possible because PLBs expedite customs checks and reduce container dwell times at Indonesian ports.
“Since there is no pre-clearance activity, the container can be removed from the port to a PLB in only one day. So the dwell time is shortened compared with general imports, which still take and average of 3.36 days,” he told The Loadstar.
He said commodities currently stored in PLBs included cargo for the textile, oil and gas, mining, chemicals and automotive industries, as well as raw materials for food and beverage products.
PLBs have online licensing and permit procedures, Mr Asngadi noted,
Source : https://theloadstar.co.uk/indonesian-logistics-benefits-booming-e-commerce-leads-cheaper-plbs/


Tersedia di Jakarta, Surabaya dan Denpasar, menargetkan hingga akhir tahun tersebar di 20 bandara

Acara peresmian kerja sama strategis TIPS, Citilink dan Angkasa Pura

Bertujuan memperlancar proses pengiriman dan menjaga keamanan, startup lokal yang diinisiasi sejak tahun 2016, TIPS (Titipin Penumpang Saja) meresmikan kerja sama strategisnya dengan Citilink Indonesia, Continue reading →


Estubizi, pemain coworking space lokal, mulai melirik potensi bisnis komunitas online lewat peluncuran platform Estubizi Network. Peluncuran platform tersebut ditujukan untuk membantu startup mengembangkan usahanya dengan konsep kolaborasi.

Kepada DailySocial, Chief Entrepreneur Officer Estubizi, Benyamin Ruslan Naba menuturkan, platform ini diluncurkan karena merujuk dari data yang dimiliki perusahaan yang menyatakan tingkat keberhasilan pebisnis pemula untuk bertahan dan berhasil ialah 50%. Continue reading →


by: Aditya Hadi Pratama

Inti berita

  • Pada 14 Agustus 2018, aplikasi olahraga asal Singapura Rovo menyatakan kepada Tech in Asia bahwa mereka telah mendapat pendanaan tahap awal (seed funding) sebesar US$473.000 (sekitar Rp6,9 miliar)
  • Investasi tersebut dipimpin oleh East Ventures, dan diikuti oleh Golden Gate Ventures.
  • Saat ini, Rovo telah beroperasi di beberapa negara Asia, seperti Indonesia, Singapura, Filipina, Malaysia, dan India.

Continue reading →